KEMENKO Perekonomian Mengadakan Talking ASEAN: The Business Series

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan, The Habibie Center, BINUS University International, Indonesia Services Dialogue Council, dan Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) telah menyelenggarakan Seminar Talking ASEAN: The Business Series dengan tema ASEAN @50:Making the AEC Work for the People di Graha Sawala, Gedung Ali Wardhana pada hari Kamis, 31 Agustus 2017.

Acara ini bertujuan untuk mengkaji manfaat dari kemajuan integrasi ekonomi ASEAN bagi penduduknya dan  mengidentifikasi upaya untuk membuat Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) lebih people-centered dan people-oriented serta memfasilitasi diskusi di antara semua pemangku kepentingan terkait isu, tantangan, dan peluang MEA di tahun-tahun mendatang.

Dalam kegiatan talking ASEAN tersebut, keynote speech disampaikan oleh Dr. Lukita Dinarsyah Tuwo (Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia). Sementara untuk sesi diskusi panelnya menghadirkan panelis Dr. Rizal Affandi Lukman (Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia), Dr. Ponciano S.Intal (Senior Economist, Economic Research Institute for ASEAN and East Asia), Shinta Widjaja Kamdani (Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Internasional, KADIN), Dr. Suryani Sidik Motik (Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia – HIPPI), Enrico Pitono (CEO Matata Corporation UK Limited) dan Nora’in Ali (Head for Enterprise and Stakeholders Engagement Division, Sekretariat ASEAN) dengan dipandu moderator Dr. Alexander C. Chandra (Associate Fellow, The Habibie Center).

Seminar ini merupakan acara khusus karena bertepatan dengan peringatan ulang tahun emas (50 tahun) ASEAN. Berdirinya ASEAN tahun 1967 diinisiasi oleh 5 negara (Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura dan Filipina) dengan tujuan memanfaatkan kesamaan budaya dan menyelesaikan ketegangan politik di kawasan, kini ASEAN telah berevolusi menjadi kerja sama kawasan dari 10 negara dan menjadi salah satu blok ekonomi terbesar di Asia. ASEAN sebagai kawasan ekonomi telah menunjukkan kemajuan yang signifikan dengan pencapaian PDB mencapai USD 2,55 triliun pada tahun 2016, dengan PDB per kapita mencapai hampir USD 4.000.

Perekonomian ASEAN merupakan terbesar ke-3 di Asia dan ke-6 di dunia dengan tingkat integrasi pasar yang semakin maju. Dengan jumlah penduduk lebih dari 629 juta, ASEAN memiliki basis konsumen yang besar, untuk Asia hanya di belakang Tiongkok dan India.

Sementara itu, Indonesia menjadi sentral perekonomian terbesar di ASEAN karena mewakili 35% dari PDB ASEAN. Selanjutnya untuk populasi Indonesia sebanyak 40% dari total populasi ASEAN dengan jumlah pekerja terbesar di ASEAN, sekitar 157 juta calon pekerja. Komposisi terbesar dari calon pekerja ini masih di usia produktif dan ini bisa menjadi pendorong utama pertumbuhan ASEAN di masa depan.

Kegiatan seminar ini mengambil tema “Making AEC Work For The People” dan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendorong pertumbuhan perekonomian semakin inklusif. Upaya pemerintah tersebut tercermin dalam kebijakan reformasi ekonomi yang fokus pada 6 area yakni : i) memperbaiki iklim investasi; ii) meningkatkan daya saing industri; iii) meningkatkan efisiensi logistik; iv) mempromosikan sektor pariwisata; v) menstimulasi ekspor dan vi) memperkuat daya beli masyarakat.

Dampak positif dari kebijakan reformasi ekonomi tidak hanya tercermin dari solidnya pertumbuhan ekonomi Indonesia, namun juga disertai perbaikan indikator sosial yakni penurunan tingkat kemiskinan absolut dan tingkat pengangguran.

Paket reformasi ekonomi yang dikombinasikan dengan konsep AEC telah memberikan dampak positif bagi masyarakat. Salah satu contohnya adalah sektor pariwisata dimana 37% wisatawan internasional yang masuk ke Indonesia adalah turis ASEAN. Selain itu, dirasakan juga semakin banyak wisatawan ASEAN mengunjungi destinasi-destinasi wisata di daerah lain di Indonesia selain Jawa dan Bali. Mereka mengunjungi Lombok di Nusa Tenggara Barat dan Manado di Sulawesi Utara serta Raja Ampat di Papua Barat. Kunjungan turis tersebut telah membantu usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) lokal, yang merupakan tulang punggung industri pariwisata di wilayah tersebut. Untuk mendukung semua itu, Pemerintah Indonesia akan terus memperbaiki konektivitas, infrastruktur, dan logistik di banyak kawasan wisata seiring dengan upaya pemerintah yang telah meluncurkan 10 kawasan strategis untuk pariwisata nasional.

Di lain pihak, ada harapan yang tinggi bagi ASEAN untuk menjadi pelaku ekonomi utama di tingkat global. Untuk mencapai tujuan tersebut, ASEAN perlu meningkatkan konektivitas global dan mengeksplorasi peluang yang ada, namun tetap berpijak pada kondisi sosial budaya dan kearifan lokal penduduk ASEAN.

Oleh karena itu, ASEAN juga perlu melakukan pembenahan internal dengan semakin meningkatkan keterlibatan dan komunikasi para pemangku kepentingan intra-ASEAN, antara pemerintah dengan pengusahanya dan pada saat yang sama meningkatkan awareness and ownership of ASEAN people , khususnya di Indonesia, agar MEA memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.