FGD Peningkatan Ekspor Indonesia ke ASEAN dan Dunia

Jakarta, 26 September 2019 — Dalam rangka mendorong peningkatan ekspor Indonesia ke ASEAN dan Dunia, Kemenko Perekonomian selaku Ketua Dewan MEA Indonesia mengadakan Focus Group Discussion dengan judul “Peningkatan Ekspor Indonesia ke ASEAN dan Dunia” Rabu (26/9) di Jakarta. FGD menghadirkan Raden Edi Priyo Pambudi (Staf Ahli Hubungan Ekonomi dan Maritim, Kemenko Perekonomian), Sukma Ningrum (Asisten Deputi Peningkatan Ekspor dan Fasilitasi Perdagangan Internasional, Kemenko Perekonomian) dan Nugraheni Prasetya Hastuti (Kepala Subdirektorat Asia Pasifik dan Afrika, Kementerian Perdagangan) sebagai narasumber. Selain itu FGD dihadiri oleh beberapa Pusat Studi ASEAN yang berasal dari wilayah Jabodetabek yaitu Yuni Reni Intarti (Universitas Indonesia), Ktut Silvanita Mangani (Universitas Kristen Indonesia), Jerry Marcellinus Logahan (Institut Bisnis dan Multimedia ASMI) dan Yuliana Riana Prasetyawati (London School of Public Relations) sebagai Penanggap.

Diskusi diawali dengan pemaparan performa ekspor Indonesia ke ASEAN dan Dunia selama beberapa tahun terakhir. Meskipun Indonesia telah menjalin kerja sama ekonomi yang erat dengan negara-negara anggota ASEAN lain dalam kerangka Masyarakat Ekonomi ASEAN namun data menunjukkan Indonesia mengalami defisit perdagangan selama 10 tahun terakhir kecuali pada tahun 2016 dan 2017 mengalami penurunan yang cukup signifikan sebelum akhirnya naik lagi di tahun 2018. Nilai defisit di tahun 2016 turun dari 5.218 juta dolar tahun 2015 menjadi 867 juta dolar di tahun 2016. Di tahun berikutnya yaitu tahun 2017 jumlah defisit turun menjadi 79 juta dolar. Pada tahun 2018 kembali naik lagi menjadi 3.831 juta dolar. Untuk nilai ekspor Indonesia ke ASEAN dalam kurun waktu 10 tahun terakhir mengalami kenaikan hingga tahun 2011 dengan nilai 42.099 juta dolar. Di tahun-tahun berikutnya nilai ekspor mengalami penurunan hingga tahun 2016 di angka 33.830 juta dolar kemudian naik kembali di dua tahun berikutnya.

Rendahnya performa ekspor Indonesia disebabkan oleh beberapa hambatan dan tantangan seperti ketidaksesuaian komoditas ekspor Indonesia yang masih berbentuk primary product dengan permintaan dunia berupa produk manufaktur., tingginya angka impor bahan baku, dan hambatan tarif dan non tarif.

Beberapa strategi peningkatan ekspor telah dilaksanakan melalui kerja sama pengembangan ekspor, pengembangan produk ekspor, pengembangan pasar dan informasi ekspor, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia, dan branding produk Indonesia melalui promosi dagang di luar negeri.

Melalui diskusi kaii ini, narasumber, penanggap dan peserta FGD bersama-sama membahas dan merumuskan strategi baru bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor. Beberapa rekomendasi yang dihasilkan antara lain Indonesia perlu menambah nilai komoditas ekspor dengan mengembangkan produk dengan nilai kompleksitas dan eksklusivitas yang tinggi, melakukan substitusi ekspor, serta dukungan yang lebih besar pada pelaku usaha.

Melalui acara FGD ini diharapkan pertukaran informasi dan pengetahuan dari Pusat Studi ASEAN dapat membantu pemerintah dalam merumuskan strategi peningkatan ekspor sekaligus membangun kerja sama dan koordinasi di antara kedua belah pihak.